Your search results

Cara Menuju ke Tebing Keraton

Posted by admin on August 7, 2017
| 0

Tebing Keraton sekarang menjadi salah satu ICON bagi wisatawan yang akan ke Bandung. Baik bagi yang hobi Traking, Hiking, Joging dan Gowes. Karena jalan menuju ke Tebing Keraton ini sangat menantang bagi penghobi jalan dan sepeda (Gowes).

DE REIZ VILLA, silahkan click website kami http://dereizvilla.com/   dan https://sewavillabdg.com/    lokasinya relatif dekat dengan Objek Wisata Tebing Keraton.

Bagaimana caranya menuju ke Tebing Keraton ??? Berikut arahan yang bisa digunakan oleh wisatawan yang akan menuju ke sana.

Cari pakai Google Map arah McDonalds Simpang Dago ……

  1. Dari McD Simpang Dago lurus terus ke arah Sheraton sampai melewati Dago Tea House dan Terminal Dago.
  2. Tidak jauh dari Terminal Dago, ada jalan bercabang. Yang ke kiri menuju Dago Giri, yang ke kanan ke arah Bukit Dago Pakar. AMBIL YANG KANAN.
  3. Dari sana beberapa ratus meter ada cabang lagi. Yang kiri ke Dago Bengkok. Yang kanan masih ke arah Bukit Dago Pakar. AMBIL YANG KANAN.
  4. Beberapa ratus meter dari sana, dekat Indomaret di sisi kiri jalan, ada belokan ke kiri ke arah Tahura (Taman Hutan Raya) Ir. H. Juanda. BELOK KIRI. Kalau lurus terus nanti bablas ke daerah cafe-cafe seperti belokan ke Sierra, dan Stone Cafe.
  5. Jalanan menanjak beberapa ratus meter, di sebelah kiri ada gerbang masuk dan tempat parkir luas untuk Tahura, masih lurus terus.
  6. Tidak jauh dari sana ada jalan bercabang di dekat warung. Jalanan ke kanan ada tulisan Bukit Pakar Utara. BELOK KANAN.
  7. Dari sini jalanan makin menanjak. Dari sini jalanan akan melewati hutan di sisi kiri.
  8. Terus sampai ada tulisan ‘Warban’ alias Warung Bandrek. Di sini tempat para cyclist berkumpul sambil minum bandrek. Tidak jauh dari Warban, ada cabang dua.
  9. PERINGATAN: Berdasarkan pengalaman, jalanan ke kiri di-blok oleh para ojeg lokal dan para pengunjung akan dipaksa belok dan parkir di lahan parkir yang sudah disediakan di sebelah kanan. Dari sana pengunjung akan dipaksa naik ojeg.
  10. Silakan negosiasi dengan ojeg tersebut. Kalau bisa sogok mungkin boleh naik ke atas dengan kendaraan sendiri, tapi dari hasil investigasi kami kemarin katanya semua mobil tidak diperbolehkan naik ke atas dengan alasan jalanan rusak dan lahan parkir terbatas. Tarif ojek sekitar Rp 50.000,- per orang dan bisa ditawar (katanya). Kalau mau jalan kaki masih 2 km. 
  11. Kalau sudah lewat halangan ojeg tersebut, dari sana jalan terus, di kanan mulai tampak pemandangan bukit-bukit hijau serta rumah-rumah di lereng bukit. Tak berapa lama kemudian akan tampak pemukiman warga. Jalanan akan terlihat berbelok ke kanan, ikuti jalan terus sampai habis pemukiman warga.
  12. Tidak jauh dari sana ada belokan ke kiri yang agak curam. BELOK KIRI. Di belokan itu ada papan penunjuk sementara.
  13. Hanya sekitar 100 meter terakhir, jalanan sangat curam dan berbatu-batu. Tak lama kemudian ada beberapa warung di sebelah kanan dan di sisi kiri ada bangunan seperti gapura yang merupakan pintu masuk ke Tebing Keraton. 
  14. Dari pintu masuk sudah ada jalur yang sangat nyaman dan aman berupa paving block sampai ke viewing point. Selamat Datang di Tebing Keraton!

 

Pagi hari di hari biasa Tebing Keraton juga ramai

Pagi hari di hari biasa Tebing Keraton juga ramai

Setelah sampai di lokasi, ternyata sudah banyak orang di sana. Ada sekitar 30 orang, ada yang sudah berpose di ujung batu, ada yang turun ke lereng berbatu-batu, ada juga yang sedang menjaga tripod karena sedang mengambil timelapse.

Bikin timelapse dulu yuk

Bikin timelapse dulu yuk

Matahari belum kelihatan, namun langit sudah lumayan terang karena sebenarnya matahari sudah terbit di balik bukit. Kami pun menyiapkan kamera untuk timelapse di angle yang sama dengan tripod-tripod lainnya. Alasannya adalah, itu posisi yang paling aman yang tidak akan dilalui oleh orang-orang. Di sana-sini orang-orang sibuk foto panorama dan berselfie-ria. Pengunjung datang dan pergi, cukup ramai namun tidak terlalu padat sampai tidak bisa bergerak. Mereka pun dengan sopan antri untuk bergantian foto di spot-spot keren.

Sunrise di Tebing Keraton

Sunrise di Tebing Keraton

Perlu diperhatikan bahwa kondisi tanah di sana berupa tanah kering berpasir yang cukup licin bila dipijak. Oleh karena itu perlu berhati-hati jika ingin berfoto di batu-batu yang posisinya cukup berbahaya di ujung tebing. Tapi sebenernya ga ngeri-ngeri amat koq, banyak juga yang foto-foto di sana. Update: saat ini sekeliling Tebing Keraton sudah dipagari sehingga cukup aman bagi yang bawa anak-anak. Batu keren untuk spot selfie masih bisa diakses secara ilegal, namun harap berhati-hati supaya tidak tergelincir ke bawah. 

Salah satu spot foto yang populer di Tebing Keraton

Salah satu spot foto yang populer di Tebing Keraton

Yang membuat Tebing Keraton ini ramai didatangi memang karena pemandangannya yang keceh, terhampar luas lebih dari 180 derajat. Hutan yang penuh dengan pepohonan hijau menghiasi pemandangan lembah dan gunung-gunung di sekitarnya. Yang bikin tambah keren adalah saat ada kabut. Gerakan kabut yang melayang-layang meluncur di sela-sela pepohonan kemudian menghilang ditelan terangnya langit. Jarang-jarang kan di kota besar seperti Bandung bisa menikmati kabut? Kemudian saat matahari bersinar menembus kabut, indahnya tak terlukiskan dengan kata-kata deh.

Pemandangan cantik pagi hari di Tebing Keraton

Pemandangan cantik pagi hari di Tebing Keraton

Dari obrolan sana-sini, ternyata Pak Asep lah yang menciptakan nama Tebing Keraton sebulan yang lalu. Dia bilang dinamakan Tebing Keraton karena berhubungan dengan keindahan alam (hmm….agak kurang jelas sih ya benang merahnya. ya sudah lah yang penting namanya keren). Dalam bahasa Sunda memang disebut “Tebing Karaton”, seperti yang tertulis di papan petunjuk yang ada di depan jalan masuk, namun saat Pak Asep berbicara dalam bahasa Indonesia, dia mengucapkannya “Tebing Keraton”.

Pemandangan pagi hari di Tebing Keraton

Pemandangan pagi hari di Tebing Keraton

View di Tebing Keraton

View di Tebing Keraton

Pak Asep dulunya adalah seorang tukang ojeg. Sekarang dia sibuk mengurus area Tebing Keraton. Beberapa warga juga kecipratan rejeki dengan semakin tenarnya lokasi ini. Mudah-mudahan warga kampung sekitar merasa terbantu dengan adanya ‘wisata baru’ di daerah mereka. Hal penting yang perlu diingat adalah pengunjung diharapkan tetap menjaga kebersihan. Kita di sana kan cuma sebagai tamu, jangan sampai area warga lokal yang dulunya asri cuma gara-gara booming wisata malah jadi kotor dan rusak. Dimohon kerjasamanya ya…